Sebagai seorang yang terbiasa berpikir dengan logika, saya bukanlah tipe orang yang percaya dengan hal – hal mistis yang bersifat supranatural, walaupun saya juga adalah orang yang percaya memang ada kehidupan lain di luar batas penglihatan dan kemampuan manusia. Singkat saja, kehidupan di alam gaib.
Ya, saya percaya bahwa hal – hal gaib itu memang ada. Saya percaya Tuhan itu ada. Saya percaya malaikat itu ada. Saya juga percaya makhluk bernama jin itu ada, tapi saya bukanlah jenis orang yang percaya bahwa manusia dapat dicelakakan oleh sesama manusia ataupun makhluk lain yang bukan manusia dengan suatu cara yang tidak tampak dan di luar logika.
Tapi mungkin inilah saatnya saya meredefinisi cara berpikir saya yang lama dan mulai menggunakan otak kanan saya bekerja untuk merasionalisasikan hal – hal semacam ini. Yang jelas saya sangat percaya bahwa kekuatan Tuhan yang Maha Esa melebihi segala sesuatu dan hanya kepada-Nyalah manusia dapat memohon pertolongan.
Sudah dua minggu ini lutut kiri saya sakit jika dipakai berjalan. Paling sakit jika saya bangkit berdiri dari duduk. Saya pikir ini hanyalah penyakit lama, encok karena kecapekan. Voltaren saya oleskan pada lutut sambil saya urut – urut. Tak terlupa safecare dan minyak telon juga saya oleskan. Tapi sakit ini tak kunjung hilang. Ah, saya pikir cedera lutut ringan biasa karena setiap hari mendaki tanjakan dan menaiki anak tangga tapi saya salah sikap waktu berjalan. Seminggu ini saya halangan, sakitnya bertambah dan membuat saya berjalan agak tertatih. Saya masih pikir mungkin saya pegal – pegal karena halangan. Sampai akhirnya sepulang mengaji dari Mama Kei, beliau keheranan melihat saya kesakitan saat berdiri.
“Mama Ibu, kau pu kaki kenapa?”
“Tara apa – apa mamak, sakit biasa saja, tapi su dua minggu ini tara sembuh – sembuh”
“Mungkin ada kotoran, coba pi panggil Tete Mus untuk angkat kotoran”
“Maksudnya mamak?”
“Disini itu biasa begini sudah, dulu sa juga pernah sakit di mata kaki baru sa pi angkat kotoran dengan Tete Mus dorang. Sa dapat kaleng susu sepenggal. Sakit kaki Mama ini sampai bengkak bokar tara bisa berjalan. Kalau barang itu su diangkat baru sembuh”
“Hmmm..begitu ya?memang cara angkatnya bagaimana Mamak?”
“Biar panggil Tete Mus lai baru dong hisap kau pu tempat sakit dengan bawang, nanti barangnya keluar”
“Oooooh..” saya masih berpikir mungkin saja barnag itu sudah ada di mulutnya Tete Mus.
“Dari mulut kosong keluar barang Mamak?”
“Iyoooo”
Seperti masih mengerti ketidakpercayaan saya, Mama Kei menjelaskan panjang lebar.
“Bukan katong tara percaya dokter – dokter tapi disini itu begini sudah. Kalau su diobat tara sembuh, berarti ada penyakit lain. Jadi pi angkat penyakit dengan cara adat. Mungkin kemarin Mama Ibu pi berjalan ke tempat pamalikah, sore – sore hujan gerimis Mama Ibu jalankah, bisa juga ada orang usaha – usaha Mama Ibu jadi dong taruh barang di Mama Ibu pu tempat. Makanya Mama Ibu kalau bacuci pakaian itu jangan dikasih kering di luar. Bawa masuk saja ke dalam. Lai kalau bersisir hati – hati Mama Ibu pu rambut”.
“Waaaa…memang disini ada yang seperti itu ya Mamak?”
“Namanya kita di kampung – kampung itu pasti ada toh, apalai di Timar sana tara beres orang – orang pu mantra. Patipi pasir, Rumbati, Salakiti, itu lai tara beres. Kitorang di kampung ini masih baik, moyang – moyang yang jaga kitorang. Mama Ibu sa kasih tau bukan tipu – tipu. Supaya saya jaga Mama Ibu sampai setaun kembali lai ke Jawa. Mama Ibu itu su seperti kitong punya anak perempuan yang tua”
“Waaaa..makasih mamak”
Saya terdiam. Saya terharu dengan perlindungan yang diberikan oleh keluarga Mama Kei selama ini.
“Tapi siapa pula yang mau taruh itu barang pada saya?”
“Kitong ini tara tau toh manusia punya hati? Mama Ibu ini baru boleh bisa saja orang usaha – usaha Mama Ibu toh? Baru lai Mama Ibu pi berjalan malam hari kasih les anak – anak, mungkin saja malam itu Mama Ibu baku tabrak dengan makhluk – makhluk pu tempat. Biar nanti Isman dorang yang pi panggil Tete. Mama Ibu besok hari kembali biar sa siapkan bawang”
Entah kenapa, saya akhirnya memutuskan untuk menuruti perkataan Mama Kei. Selama mama piara pergi, keluarganyalah yang menjaga saya dna memberi saya makan. Saya sudah menganggap keluarga Mama Kei seperti keluarga sendiri.
Hari ini Isman pergi panggil Tete Mus ke rumahnya. Sebelum pengangkatan kotoran dilakukan, saya mengecek bawang untuk memastikan tidak ada barang apapun di dalamnya. Anehnya, saat irisan bawang ditempelkan ke lutut saya dan dihisap Tete Mus, bawang yang tadinya bersih bercampur dengan pecahan benda plastik berwarna pink terang dan sedikit darah, besarnya seruas jari kelingking. Lalu, lukakah lutut saya? Tidak, lutut saya tidak mengalami luka apa – apa. Reaksi pertama saya adalah tertawa heran. Aneh sekali, dari ketiadaan muncul muncul pecahan barang berwarna pink, warna kesukaan saya. Tadinya, saya mau memotret barang itu. Tapi jangankan memotret, memegang saja saya dilarang. “Jangan kasih pegang Mama Ibu, pamali, nanti bisa kembali” lalu Pak Kadir (suami Mama Kei) segera membuang barang itu ke laut bersama sampah bawang. Sakit lututnya? Belum sembuh benar, tapi jauh berkurang. Percaya, nggak?
“Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap, dan dari kejahatan tukang-tukang sihir yang meniup pada ikatan, dan dari kejahatan pendengki apabila ia dengki. Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara manusia, yang menguasai manusia. Tuhan bagi manusia, dari kejahatan bisikan setan yang tersembunyi. Yang membisikkan dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia”.
Offie, 29 Juli 2011
October 9, 2011 at 5:36 pm
dhitiii, tiba-tiba inget dhiti..
tapi, gak mau buka facebook..eh, ada blognya dhiti..hhe..
ikut baca, deh..
dhit, kok cerita yang ini tidak biasa, ya??
di luar otak aku pun..
hehe..
walaupun kemaren pulang dari sebuah pulau, ada yang cerita kaya gini ini..tetep masih ngerasa jauh dari logika otak..
hati-hati di sana ya, dhit..
October 16, 2011 at 3:32 pm
Ismiiii..kangen banget jugaaa..baru turun kota lagi nih,,heuhue,,
ini tulisan udah lama bangeeet say,,hehe,,alhamdulillah tapi sekarangudah dihindarkan dari hal – hal semacam ini,,:D