I thought I’d forget you, but I guess I forgot to
Di tengah kunjungan Obama ke Jakarta, hebohnya berita plesir Gayus ke Bali, desah tangis korban Merapi & tsunami Mentawai, juga ujian aktuaria yang akan saya hadapi, saya juga heran kenapa fokus tulisan saya di bawah ini ngga ada kaitannya sama sekali dengan topik – topik di atas. Apalagi ini tulisan perdana saya setelah hampir setahun tidak pernah menulis lagi. Memang luar biasa efek dari sebuah perjalanan yang pernah saya jalani ini.
Semua bermula dari perjalanan saya kembali ke negeri tetangga saat pertengahan september lalu. Seperti judul yang saya tuliskan di atas, setiap perjalanan memang selalu menyisakan berbagai cerita. Begitupula dengan perjalanan saya pada waktu itu.
Pergi ke negeri asing tanpa teman – teman yang saya kenal, membuat saya berusaha ramah terhadap siapa saja yang saya jumpai untuk membangun jaringan. Fortunately and unexpected, saya berhasil mengenal beberapa orang disana. Di antara orang – orang itu, ada seorang asing bagi saya (sebut saja namanya Stranger) yang entah kenapa saya begitu nyaman bertukar cerita dengannya. Di pertemuan kedua kami mengobrol dari siang hingga larut malam dan sempat terlontar dari mulutnya “Lo udah lama ya ga ketemu cowo ITB makanya jadi heboh sama gw”. Dalem hati sih ya “GR bener sih ni orang, ya emang sih lo asik diajak ngobrol tapi ga segitunya juga kali”. Tapi memang saya akui, sudah lama sekali saya tidak bisa merasa klik dengan orang yang baru pertama kali saya kenal. Saya pikir, di kemudian hari dia akan menjadi salah satu sahabat saya lainnya yang saya bisa sharing soal apapun dengannya.
Sampai akhirnya saya kembali ke Jakarta, dan obrolan kami berlanjut di ruang diskusi yang lain. Sharing banyak hal dari A sampe Z bahkan sampe Z’ lewat YM hingga jam 3 subuh, pernah hampir dijemput waktu saya berkunjung ke Bandung, dan diselingi juga dengan beberapa sms, saya merasa sangat nyaman berteman dengan si stranger. Dia membuka cakrawala baru bagi saya (dia memang orang yang sangat pintar dan punya mimpi besar). Dia juga banyak membantu saya dengan pandangan – pandangannya.
Akan tetapi saya mulai merasa ada sesuatu yang salah disini. Bukan, bukan salah si stranger, tapi salah itu ada pada diri saya. How can you be friend with someone when everytime you talked to him you want him even more?. Saya sangat takut bahwa perasaan “temen asing yg enak diajak ngobrol” saya ini berubah menjadi sesuatu yg lain sampai pada akhirnya saya menyadari bahwa saya memang telah jatuh cinta. 20-10-2010, saat dia menyuruh saya mendengarkan lagu At The Beginningnya Dona Lewis (padahal sih dia cuma iseng aja pas dapet lagu itu dari temennya ada yang nyuruh dia dengerin). Ketika itu pula saya sadar, ini sangat menyalahi aturan, bagaimana mungkin saya jatuh cinta pada teman saya, apalagi dia sudah memiliki seseorang di sampingnya?. Saya tidak bisa melanjutkan pertemanan dengan si stranger, karena saya jatuh cinta dengan si stranger. Saya tidak bisa melanjutkan pertemanan ini, karena saya menganggap sedikit perhatian *kalau saya boleh menyebut itu perhatian* yang si stranger berikan pada saya sebagai suatu bentuk perhatian dari seorang pria, bukan seorang teman, dan ini yang salah, karena biasanya, saya selalu bisa menganggap bentuk perhatian seorang teman sebagai perhatian dari seorang teman.
Si stranger ini bukan seperti teman – teman saya yang lain, yang ketika memarahi saya karena belum makan saya akan merasa senang, tapi saya menjawab “dasar cerewet lo” , yang ketika saya menangis di hadapannya dan dia berusaha menenangkan saya perasaan saya tetap tidak berubah jadi “ya ampun..baik banget sih si X”, yang selalu ada 24 jam untuk saya bahkan sampai menemani saya di rumah hingga larut malam sampai saya tertidur dan dia tetap terbangun waktu menunggu sepupu saya yang nggak jelas kapan pulang tapi perasaan saya tidak berubah menjadi berbunga – bunga “huwaaaa..sahabat gw so sweet..” , yang memberikan cokelat putih saat wisuda tapi perasaan saya tidak berubah menjadi “kakak gw so sweet”, yang memberikan saya sebatang mawar merah dengan aturan saya utang kencan kalo mau bunganya tapi saya hanya menganggap itu sebagai becandaan belaka … Kamu bukan seperti teman – teman saya yang lain Stranger. Mendapat sms “how is your work?” dari si stranger, membuat hati saya berbunga – bunga. Pertanyaan udah makan belum dari si stranger membuat saya senyum – senyum sendiri di cubicle. Bahkan, saat bos saya a.k.a papi menyuruh saya melakukan sesuatu dan saya sudah menyelesaikannya, yang terlontar dari mulut saya adalah “Udah ya, Xxx” bukan “Papi, udah ya kerjaannya” seperti biasanya.
Mungkin saya bagi si stranger hanya sekedar teman melepas penat, bagian dari “petualangan”nya, atau sangat mungkin saya adalah juga seorang asing baginya yang selamanya akan menjadi orang asing. Dan karena itulah, saya memutuskan untuk mengakhiri pertemanan ini. (Dan saya rasa, dia pun memang mulai bosan berteman dengan saya karena sikapnya pun mulai berubah). Saya tidak pernah menyapa lebih dulu lagi saat si stranger online, berusaha menanggapi secara datar jika dia menyapa (yang mana saya tidak pernah bisa), tidak menanyakan kabar lewat sms lagi, dan juga menyibukkan diri dengan banyak hal lain. Saya memilih untuk pergi. just because I care about him. Saya tidak mau jatuh cinta pada teman saya sendiri (lagi). Dan saya sungguh tidak ingin menyalahartikan pertemanan yang si stanger berikan.
Kalau boleh saya punya harapan, saya Cuma berharap kamu baca, stranger. Dan kalau memang kamu baca … maklumilah kepergian saya membawa semua rasa yang saya miliki ini, makasih udah pernah mewarnai hari – hari saya, jangan suka bengong di pantai sendirian lagi ya, jangan kebanyakan minum kopi juga, sukses buat bisnis & risetnya, yang langgeng sama yayangnyaaaaaa, live well & happy, Indonesia butuh orang – orang seperti kamu J.
Eiya satu lagi deng, jangan lupa balik ke Indonesia, kamu kan udah janji sama Mama kamu kalo kamu bakal nemenin Mama before 30.
Let me walk away and forget about what we had stranger.. there is no win win solution, there is just win loose solution, right? I prefer to loose