Ahirnyaaaaaa,,stelah 3 bulan ngga nulis di blog,,saya punya mood buat nulis lagi,,hehe,,
Saya lagi berpikir tentang hakikat utama seorang wanita. Dari dulu saya selalu setuju dengan anggapan bahwa wanita adalah pilar peradaban. Saya juga percaya bahwa penguasa dunia yang sesungguhnya adalah wanita. Saya juga sangat setuju dengan anggapan bahwa wanita adalah pendidik pertama, makanya saya juga setuju kalau wanita = garda terdepan pembangunan. Karena peran itulah makanya wanita harus kuat, mandiri, punya wawasan yang luas, pendidikan yang tinggi, dan yang paling penting, akhlak yang baik. Saya juga sangat setuju bahwa wanita memiliki peran – peran tertentu dalam sistem kehidupan, yang tidak tergantikan oleh pihak lain selain wanita itu sendiri, yang biasa kita sebut dengan “kodrat”. Cuma satu yang saya nggak setuju, dari dulu saya selalu heran dengan konsep bahwa wanita nggak boleh bekerja di luar rumah.
Walaupun sekarang udah zamannya emansipasi dan banyak wanita bekerja di luar rumah, pada kenyataannya masih banyak teman – teman saya (laki-laki tentunya) yang tidak akan membolehkan istrinya bekerja di luar rumah jika menikah kelak, dengan alasan – alasan klasik, “Nanti rumah tangganya ancur”, “Nanti anaknya kurang kasih sayang”, “Udahlah yang cari duit mah biar gw ajah”, “Cewe mah udah kodratnya di rumah” dan masih banyak lagi sejuta alasan dari kaum adam yang nggak membolehkan istrinya bekerja di luar rumah. Yang membuat saya heran adalah kalo para wanita bisa tetap menjalankan kewajiban rumah tangganya dengan baik, kenapa harus dilarang? Saya jadi berpikir suudzon, jangan – jangan itu cuma egonya laki – laki aja nggak mau kalah saing sama wanita. Pertanyaan – pertanyaan saya seputar topik ini pernah dicounter dengan halus oleh seorang teman, dia mengutip salah satu hadits Rasulullah S.A.W: “Sebaik-baik wanita adalah yang berada di tengah rumahnya”.
Jujur, saya jleb pas denger hadits tersebut, tapi kemudian saya berpikir, justru karena peran wanita sangat penting-pilar peradaban- makanya wanita harus berkarya dan melakukan sesuatu, untuk kehidupan yang lebih baik. Saya memilih untuk tidak menjadi wanita “terbaik”, tapi bisa bermanfaat dan melakukan sesuatu yang lebih untuk umat manusia, dan yang perlu di bold adalah jika kewajiban utama sebagai seorang istri/ibu telah terpenuhi. Bukankah Rasulullah S.A.W juga yang mengatakan bahwa sebaik – baik manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain? Gini loh, saya sih ngerasa egois banget ketika seseorang berpikir bahwa kontribusi wanita yang paling baik adalah dengan sekedar berada di rumah, mendidik anak – anak mereka dengan baik dan melimpahinya dengan kasih sayang supaya mereka bisa menjadi orang – orang yang berguna suatu hari kelak. Kalau wanita – wanita tersebut punya kemampuan lebih, bisa menjadi ibu & istri yang baik, kenapa nggak dia berkarya di luar rumah? Kasarnya sih lo mau keluarga lo aman-bahagia-tentram-sakinah-mawaddah-warahmah sendiri sementara masih banyak orang – orang lain yang membutuhkan uluran tangan lo?. Bahkan Siti Khadijah r.a adalah seorang saudagar yang sukses! Mungkin emang berat..tapi saya yakin kok banyak wanita – wanita bijak yang bisa menyeimbangkan urusan pekerjaan dan keluarganya.
Tapi……………………………………………………………..When it comes to THIS……………..

suara hati paling tulus dari seorang anak SD
saya jadi benar – benar speechless akan efek dari seorang wanita yang bekerja di luar rumah. Saya HARUS benar – benar berpikir dan berpikir ulang. Saya sampai menitikkan air mata waktu liat gambar ini pertama kalinya.